Kerajaan
– kerajaan Hindu Buddha Di Indonesia
1.
Kerajaan
Kutai
Sumber utama Kerajaan Kutai ialah tujuh buah batu bertulis yang
disebut yupa. Yupa itu ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta.
Disebutkan pula dalam yupa itu bahwa Raja Mulawarman memberikan hadiah 1.000
ekor lembu kepada kaum brahmana. Selain itu, disebutkan pula bahwa Aswawarman
adalah wangsakarta (pendiri dinasti).
Yupa merupakan salah satu hasil budaya masyarakat Kutai, yaitu
tugu batu yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia dari zaman
Megalitikum, yakni bentuk menhir. Salah satu yupa itu menyebutkan suatu tempat
suci dengan nama Waprakeswara (tempat pemujaan Dewa Siwa). Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kutai adalah pemeluk agama Siwa.
2 2. Kerajaan
Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara diduga terletak di Bogor, Jawa Barat yang
merupakan kerajaan Hindu tertua kedua di Indonesia. Sumber-sumber sejarah
Kerajaan Tarumanegara dapat dibagi menjadi dua, seperti berikut.
1) Berita dari Cina Zaman Dinasti Tang
Berita dari Cina menyebutkan adanya
Kerajaan To-lo-mo (Tarumanegara ) mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 528,
538, 665, dan 666 M.
2) Prasasti-Prasasti di Jawa Barat
Prasasti yang menceritakan tentang Kerajaan
Tarumanegara, misalnya sebagai berikut:
a) Prasasti Ciaruteun (Bogor);
b) Prasasti Kebon Kopi (Bogor);
c) Prasasti Jambu atau Prasasti Pasir Koleangkak (Bogor);
d) Prasasti Pasir Awi atau Pasir Muara (Bogor);
e) Prasasti Tugu (Cilincing, Tanjuk Priok, Jakarta).;
f ) Prasasti Lebak (Banten Selatan).
Ketujuh prasasti tersebut
berbahasa Sanskerta dan berhuruf Pallawa. Prasasti yang ditemukan semuanya
tidak berangka tahun. Namun, dari huruf yang dipakai dapat diperkirakan bahwa
Kerajaan Tarumanegara berkuasa di Jawa Barat pada sekitar abad ke-5 M dengan
Rajanya Purnawarman.
Dilihat dari teknik dan cara
penulisan huruf-huruf pada prasasti-prasasti yang ditemukan sebagai bukti
keberadaan Kerajaan Tarumanegara maka dapat diketahui bahwa kehidupan
kebudayaan masyarakat pada masa itu sudah tinggi.
3.
Kerajaan Mataram Kono
Di Bumi
Mataram diperintah oleh dua wangsa atau dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya yang
beragama Hindu (di bagian utara), dan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha
(di bagian selatan). Dalam hal pembuatan candi, kedua dinasti dapat bekerja
sama, tetapi di bidang politik terjadi perebutan kekuasaan.
Prasasti Dinoyo di Jawa Timur
tahun 706 menyebutkan adanya Raja Gajayana yang mendirikan tempat pemujaan Dewa
Agastya (perwujudan Siwa sebagai Mahaguru ) diwujudkan pula dalam bentuk
lingga. Di sampimg itu, juga didirikan Candi Badut dengan berlanggam candi Jawa
Tengah.
Prasasti Kalasan tahun 778 M
menyebutkan bahwa keluarga Syailendra berhasil membujuk Panangkaran untuk
mendirikan bangunan suci buat Dewi Tara (istri Buddha) dan sebuah biara untuk
para pendeta. Panangkaran juga menghadiahkan Desa Kalasan kepada sanggha.
Pada Prasasti Balitung yang
berangka tahun 907 M disebutkan nama keluarga raja-raja keturunan Sanjaya
memuat nama Panangkaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada waktu itu
Dinasti Sanjaya dan S-ailendra sama-sama berperan di Jawa Tengah.
Dalam Prasasti Kelurak (di
daerah Prambanan) tahun 782 disebutkan tentang pembuatan Arca Manjusri sebagai
perwujudan Buddha, Dharma, dan Sanggha yang dapat disamakan dengan Brahma,
Wisnu, dan Siwa. Mungkin sekali bangunan sucinya ialah Candi Lumbung yang
terletak di sebelah utara Prambanan. Raja yang memerintah pada waktu itu ialah
Indra. Pengganti Indra yang terkenal ialah Smaratungga yang dalam
pemerintahannya mendirikan Candi
Borobudur tahun 824.
Semula terjadi perebutan
kekuasan, namun kemudian terjalin persatuan ketika terjadi perkawinan antara
Pikatan (Sanjaya) beragama Hindu dengan Pramodhawardhani (Sailendra) beragama
Buddha. Sejak itu agama Hindu dan Buddha hidup berdampingan secara damai. Hal
ini menunjukkan betapa besar jiwa toleransi bangsa Indonesia. Toleransi ini
merupakan salah sifat kepribadian bangsa Indonesia yang wajib kita lestarikan
agar tercipta kedamaian, ketenteraman dan kesejahteraan.
4.
Kerajaan Kediri
Dalam persaingan antara Panjalu
dan Kediri, ternyata Kediri yang unggul dan menjadi kerajaan yang besar
kekuasaannya. Raja terbesar dari Kerajaan Kediri adalah Jayabaya (1135–1157).
Jayabaya ingin mengembalikan kejayaan
seperti masa Airlangga dan berhasil. Panjalu dan Jenggala dapat bersatu kembali.
Lencana kerajaan memakai simbol Garuda Mukha symbol Airlangga.
Berdasarkan
kronik-kronik Cina maka kehidupan perekonomian rakyat Kediri dapat dikemukakan
sebagai berikut.
1. Rakyat hidup dari pertanian, peternakan dan perdagangan.
2. Kediri banyak menghasilkan beras.
3. Barang-barang dagangan yang laku di pasaran saat itu antara lain emas,
perak, gading dan kayu cendana.
4. Pajak rakyat berupa hasil bumi, seperti besar dan palawija.
Di bidang kebudayaan, khususnya sastra, masa Kahuripan dan
Kediri berkembang pesat, antara lain sebagai berikut.
1) Pada masa Dharmawangsa berhasil disadur kitab Mahabarata ke dalam bahasa
Jawa Kuno yang disebut kitab Wirataparwa. Selain itu juga
disusun kitab hukum yang bernama Siwasasana.
2) Di zaman Airlangga disusun kitab Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa.
3) Masa Jayabaya berhasil digubah kitab Bharatayudha oleh Empu Sedah dan Empu
Panuluh. Di samping itu, Empu Panuluh juga menulis
kitab Hariwangsa dan Gatotkacasraya.
4) Masa Kameswara berhasil ditulis kitab Smaradhahana oleh Empu Dharmaja. Kitab
Lubdaka dan Wertasancaya oleh Empu Tan Akung.
5.
Kerajaan Singasari
Pendiri Kerajaan Singasari ialah Ken
Arok yang menjadi Raja Singasari dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang
Amurwabumi. Munculnya Ken Arok sebagai raja pertama Singasari menandai
munculnya suatu dinasti baru, yakni Dinasti Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra
(Girindrawangsa). Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun (1222–1227). Pada
tahun 1227 Ken Arok dibunuh oleh seorang suruhan Anusapati (anak tiri Ken
Arok). Ken Arok dimakamkan di Kegenengan dalam bangunan Siwa– Buddha.
Terjaminnya kehidupan sosial masyarakat
Tumapel mengakibatkan bergabungnya daerah-daerah di sekitarnya.Perhatian Ken
Arok bertambah besar ketika ia menjadi raja di Singasari. Dengan demikian, rakyat
hidup dengan aman dan damai untuk mencapai kesejahteraannya.
Candi hasil peninggalan Singasari, di
antaranya adalah Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singasari. Adapun arca atau
patung hasil peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain Patung Ken Dedes
sebagai perwujudan dari Prajnyaparamita lambang kesempurnaan ilmu dan Patung
Kertanegara dalam wujud Patung Joko Dolog.
6.
Kerajaan Sriwijaya
Sumber-sumber sejarah
yang dapat digunakan untuk mengetahui kerajaan Sriwijaya, antara lain sebagai berikut.
1) Berita-berita dari Cina, India, Malaka, Ceylon, Arab, dan Parsi.
2) Prasasti-prasasti (enam di Sumatra Selatan dan satu di Pulau Bangka).
a)
Prasasti Kedukan Bukit (605 S/683 M) di Palembang. Isinya Dapunta Hyang mengadakanperjalanan selama delapan hari dengan
membawa 20.000 pasukan dan berhasil menguasai beberapa daerah. Dengan kemenangan itu
Sriwijaya menjadi makmur.
b)
Prasasti Talang Tuo (606 S/684 M di sebelah barat Palembang. Isinya
tentang pembuatan Taman Sriksetra
oleh Dapunta Hyang Sri Jayanaga untuk kemakmuran semua makhluk.
c)
Prasasti Kota Kapur (608 S/686 M) di Bangka.
d)
Prasasti Karang Birahi (608 S/686 M) di Jambi.Parasasti Kota Kapur dan
Prasasti Karang Birahi berisi permohonan kepada dewa untuk
keselamatan rakyat dan Kerajaan Sriwijaya.
e)
Prasasti Telaga Batu (tidak berangka tahun) di Palembang. Isinya berupa
kutukan terhadap mereka yang melakukan kejahatan dan
melanggar perintah raja.
f) Prasasti Palas Pasemah di Pasemah, Lampung Selatan. Isinya wilayah
Lampung Selatan telah diduduki Sriwijaya.
g) Prasasti Ligor (679 S/775 M) di tanah genting
Kra. Isinya Sriwijaya diperintah oleh Darmaseta.
Menurut sumber berita Cina yang ditulis
oleh I-Tsing dinyatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-7 M.
Berdasarkan Prasasti Ligor, pusat pemerintahan Sriwijaya di Muara Takus, yang
kemudian dipindahkan ke Palembang. Kerajaan Sriwijaya kemudian muncul sebagai
kerajaan besar di Asia Tenggara. Perluasan wilayah dilakukan dengan menguasai
Tulang Bawang (Lampung), Kedah, Pulau Bangka, Jambi, Tanah Genting Kra dan Jawa
(Kaling dan Mataram Kuno). Dengan demikian, Kerajaan Sriwijaya bukan lagi
merupakan kerajaan senusa (kerajaan yang berkuasa atas satu pulau saja )
melainkan merupakan negara antarnusa (Negara yang berkuasa atas beberapa pulau)
sehingga Sriwijaya merupakan negara nasional pertama di Indonesia.
Dalam Prasasti Nalanda disebutkan bahwa
Raja Dewapala Dewa menghadiahkan sebidang tanah untuk mendirikan sebuah biara
untuk para pendeta Sriwijaya yang belajar agama Buddha di India. Selain itu,
dalam Prasasti Nalanda juga disebutkan bahwa adanya silsilah Raja Balaputra
Dewa dan dengan tegas menunjukkan bahwa Raja Syailendra (Darrarindra) merupakan
nenek moyangnya.
Agama Buddha yang berkembang di Sriwijaya
ialah aliran Mahayana dengan salah satu tokohnya yang terkenal ialah
Dharmakirti. Para peziarah agama Buddha sebelum ke India harus tinggal di
Sriwijaya. Di antaranya ialah I' Tsing. Sebelum menuju ke India ia
mempersiapkan diri dengan mempelajari bahasa Sanskerta selama enam bulan
(1671). Begitu pula ketika pulang dari India, ia tinggal selama empat tahun
(681–685) untuk menerjemahkan agama Buddha dari bahasa Sanskerta ke bahasa
Cina. Di samping itu juga ada pendeta dari Tibet, yang bernama Atica yang
datang dan tinggal di Sriwijaya selama 11 tahun (1011-1023) dalam rangka
belajar agama Buddha dari seorang guru besar Dharmakirti.
7.
Kerajaan
Majapahit
Dengan kondisi pemerintahan yang stabil
dan keamanan yang mantap, Sumpah Palapa Gajah Mada dapat diwujudkan. Satu per
satu wilayah Nusantara dapat menyatu dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Dalam
kitab
Negarakrtagama secara jelas disebutkan daerah-daearah yang masuk wilayah
kekuasaan Majapahit ialah Jawa, Sumatra, Tanjungpura (Kalimantan), Nusa
Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua, Semenanjung Malaka, dan daerah daerah pulau
di sekitarnya. Majapahit juga menjalin hubungan baik dengan negara-negara yang
jauh, seperi Siam, Champa dan Cina. Negara-negara tersebut dianggap sebagai
mitreka satata (negara sahabat yang berkedudukan sama). Bhineka tunggal ika tan hana dharmamangrawa inilah semboyan
rakyatMajapahit dalam menciptakan persatuan dan kesatuan sehingga muncul
sebagai kerajaan besar di Nusantara.
Dalam kitab Negarakrtagama disebutkan
bahwa Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling ke daerah-daerah untuk
mengetahui sejauh mana kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya. Perlindungan
terhadap rakyat sangat diperhatikan. Demikian juga peradilan, dilaksanakan
secara ketat; siapa yang bersalah dihukum tanpa pandang bulu. Dalam kehidupan
ekonomi, masyarakat Majapahit hidup dari pertanian dan perdagangan.
8.
Kerajaan Bali
Munculnya Kerajaan Bali dapat diketahui
dari Prasasti Blanjong (Sanur) yang berangka tahun 914 M. Prasasti tersebut
ditulis dengan huruf Pranagari dan Kawi, sedang bahasanya ialah Bali Kuno dan
Sanskerta. Raja Bali yang pertama ialah Kesari Warmadewa. Ia bertakhta di
Istana Singhadwala dan merupakan raja yang mendirikan Dinasti Warmadewa. Dua
tahun kemudian, Kesari Warmadwa digantikan oleh Ugrasena (915–942). Kehidupan
perekonomian masyarakat dari Kerajaan Bali Kuno bertumpu pada pertanian dan
perdagangan.
Di bidang budaya berkaitan dengan
kehidupan keagamaan dapat dijumpai pada bangunan peninggalan masa kuno yang
sampai sekarang masih dapat kita saksikan, seperti candi dan pura. Peninggalan
bangunan candi, seperti Candi Padas di Gunung Kawi. Sebaliknya, untuk
peninggalan pura di antaranya ialah Pura Agung Besakih.
9.
Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Pada masa
pemerintahannya, terjadi serangan tentara Islam di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin dari Kerajaan Banten.
Beberapa kali tentara Islam berusaha merebut ibu kota Kerajaan Sunda, tetapi
belum berhasil.
Pada tahun 1527, Sunda Kelapa yang merupakan pelabuhan terbesar Kerajaan Sunda
jatuh ke tangan tentara Islam. Akibatnya, hubungan pusat Kerajaan Sunda di
pedalaman dengan daerah luar terputus. Satu per satu,
pelabuhan Kerajaan Sunda jatuh ke tangan kekuasaan Kerajaan Banten sehingga
Raja Sunda terpaksa bertahan di pedalaman.
Pada masa
kekuasaan raja-raja Sunda, kehidupan sosial ekonomi masyarakat cukup
mendapatkan perhatian. Meskipun pusat kekuasaan Kerajaan Sunda berada di
pedalaman, namun hubungan dagang dengan
daerah atau bangsa lain berjalan baik. Kerajaan Sunda memiliki
pelabuhanpelabuhan penting, seperti Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda
kelapa, dan Cimanuk. Di kota-kota pelabuhan tersebut diperdagangkan lada,beras, sayur-sayuran, buah-buahan, dan hewan piaraan. Di samping kegiatan
perdagangan, pertanian merupakan kegiatan mayoritas rakyat Sunda. Berdasarkan
kitab Carita Parahyangan dapat diketahui bahwa kehidupan ekonomi masyarakat Kerajaan
Sunda umumnya bertani, khususnya berladang (berhuma). Misalnya, pahuma (paladang), panggerek (pemburu), dan penyadap. Ketiganya merupakan
jenis pekerjaan di ladang. Aktivitas berladang memiliki ciri kehidupan selalu
berpindahpindah. Hal ini menjadi salah satu bagian dari tradisi social Kerajaan
Sunda yang dibuktikan dengan sering pindahnya pusat kerajaan Sunda. Selain
bertani, kehidupan masyarakat kerajaan Sunda juga berdagang. Hal ini dapat
dibuktikan dengan adanya enam buah kota bandar yang cukup penting dan ramai
dikunjungi para pedangan dari berbagai daerah atau bangsa lain. Melalui keenam
bandar tersebut, dilakukan usaha perdagangan dengan pihak luar.
Hasil budaya
masyarakat Kerajaan Sunda yang lain berupa karya sastra, baik tertulis maupun
lisan. Bentuk sastra tertulis, misalnya kitab Carita Parahyangan, sedangkan
bentuk sastra lisan berupa pantun, seperti Haturwangi dan Siliwangi.
Sikap aktif selektif
diterapkan bangsa Indonesia terhadap kebudayaan dari luar, artinya kebudayaan
asing yang masuk ke Indonesia diseleksi dan disesuikan dengan kepribadian
bangsa Indonesia. Oleh karena itu, setelah agama dan kebudayaan Hindu–Buddha
masuk ke Indonsia terjadilah akulturasi. Perwujudan akulturasi antara
kebudayaan Hindu–Buddha dengan kebudayaan Indonesia, antara lain sebagai
berikut.
a. Seni
Bangunan
Wujud akulturasi seni bangunan terlihat pada bangunan candi, salah satu
contohnya adalah Candi Borobudur yang merupakan perpaduan kebudayaan Buddha
yang berupa patung dan stupa dengan kebudayaan asli Indonesia, yakni punden
berundak (budaya Megalithikum).
b. Seni Rupa dan Seni Ukir
Akulturasi di bidang seni rupa dan seni ukir terlihat pada Candi Borobudur yang berupa relief Sang Buddha Gautama(pengaruh dari Buddha) dan relief perahu bercadik, perahu besar tidak bercadik, perahu lesung, perahu kora-kora, dan rumah panggung yang di atapnya ada burung bertengger (asli Indonesia). Di samping itu, ragam hias pada candicandi Hindu–Buddha dan motif-motif batik yang merupakan perpaduan seni India dan Indonesia.
Akulturasi di bidang seni rupa dan seni ukir terlihat pada Candi Borobudur yang berupa relief Sang Buddha Gautama(pengaruh dari Buddha) dan relief perahu bercadik, perahu besar tidak bercadik, perahu lesung, perahu kora-kora, dan rumah panggung yang di atapnya ada burung bertengger (asli Indonesia). Di samping itu, ragam hias pada candicandi Hindu–Buddha dan motif-motif batik yang merupakan perpaduan seni India dan Indonesia.
c. Aksara dan
Seni Sastra
Pengaruh budayaHindu–Buddha salah satunya menyebabkan bangsa Indonesia
memperoleh kepandaian membaca dan menulis aksara, yaitu huruf Pallawa dan
bahasa Sanskerta. Kepandaian baca-tulis akhirnya membawa perkembangan dalam
seni sastra. Misalnya, cerita Mahabarata dan Ramayana berakulturasi menjadi
wayang "purwa" karena wayang merupakan kebudayaan asli Indonesia.
Demikian juga kitab Mahabarata dan Ramayana digubah menjadi Hikayat Perang
Pandawa Jaya dan Hikayat Sri Rama, dan Hikayat Maharaja Rahwana. Dalam
pertunjukan pewayangan yang merupakan kebudayaan asli Indonesia, isi ceritanya
dari India yang bersumber pada kitab Mahabarata dan Ramayana. Munculnya
punakawan, seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong adalah penambahan bangsa
Indonesia sendiri. Ragam hias
pada wayang purwa adalah akulturasi seni India dan Indonesia.
d. Sistem
Pemerintahan
Di bidang pemerintahan dengan masuknya pengaruh Hindu maka muncul pemerintahan yang dipegang oleh raja. Semula pemimpinnya adalah kepala suku yang dianggap mempunyai kelebihan dibandingkan warga lainnya(primus interpares). Raja tidak lagi sebagai wakil dari nenek moyang, tetapi sebagai penjilmaan dewa di dunia sehingga muncul kultus "dewa raja".
e. Sistem Kalender
Masyarakat Indonesia telah mengenal astronomi sebelum datangnya pengaruh Hindu–Buddha. Pada waktu itu astronomi dipergunakan untuk kepentingan praktis. Misalnya, dengan melihat letak rasi (kelompok) bintang tertentu dapat ditentukan arah mata angin pada waktu berlayar dan tahu kapan mereka harus melakukan aktivitas pertanian. Berdasaran letak bintang dapat diketahui musim-musim yanga ada, antara lain musim kemarau, musim labuh, musim hujan, dan musim mareng. Jadi di Indonesia telah mengenal sistem kalender yang berpedoman pada pranatamangsa, misalnya mangsa Kasa (kesatu) dan mangsa Karo (kedua). Kebudayaan Hindu–Buddha yang masuk ke Indonesia telah memiliki perhitungan kalender, yang disebut kalender Saka dengan perhitungan 1 tahun Saka terdiri atas 365 hari. Menurut perhitungan tahun Saka, selisih tahun Saka dengan tahun Masehi adalah 78 tahun.
f. Sistem Kepercayaan
Nenek moyang bangsa Indonesia mempunyai kepercayaan menyembah roh nenek moyang
(animisme) juga dinamisme dan totemisme. Namun, setelah pengaruh Hindu– Buddha
masuk terjadilah akulturasi sistemkepencayaan sehingga muncul agama Hindu dan
Buddha. Pergeseran fungsi candi. Misalnya fungsi candi di India sebagai tempat
pemujaan, sedangkan di Indonesia candi di samping tempat pemujaan juga ada yang
difungsikan sebagai makam (biasanya raja/pembesar kerajaan).
g. Filsafat
Akulturasi filsafat Hindu Indonesia menimbulkan filsafat Hindu Jawa. Misalnya, tempat yang makin tinggi makin suci sebab merupakan tempat bersemayam para dewa. Itulah sebabnya raja-raja Jawa (Surakarta dan Yogyakarta) setelah meninggal dimakamkan di tempat-tempat yang tinggi, seperti Giri Bangun, Giri Layu (Surakarta), dan Imogiri (Yogyakarta)
Kerajaan Islam DI Indonesia
Proses Islamisasi
Islam
masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dan terus berkembang serta prosesnya lebih
demokratis dari pada agama Hindu. Itulah sebabnya pada abad ke-16 telah dapat
menggeser kekuasaan Hindu (Kerajaan Majapahit). Adapun proses islamisasi di
Indonesia dilakukan dengan berbagai bentuk, antara lain sebagai berikut.
a. Melalui Perdagangan
Para
pedagang dari Arab, Persia, dan Gujarat memegang peranan penting sebab di
samping berdagang, mereka juga menyebarkan agama Islam. Mereka mendirikan perkampungan
sendiri (perkampungan pedagang muslim di negeri asing ) yang disebut Pekojan.
Melalui perdagangan inilah Islam berkembang pesat. Hal ini didukung oleh
situasi politik saat itu, ketika para bupati pesisir berusaha untuk melepaskan
diri dari kekuasaan pusat yang sedang mengalami kekacauan atau perpecahan.
b.
Melalui Perkawinan
Perkawinan
putri bangsawan dengan pedagang muslim dilakukan secara Islam dengan
mengucapkan kalimat syahadat (perkawinan antara pihak Islam dengan pihak yang
belum Islam). Perkawinan merupakan saluran islamisasi yang paling mudah. Dari
perkawinan itu pula akan membentuk ikatan kekerabatan antara pihak keluarga
laki-laki dan perempuan. Saluran lewat perkawinan antara pedagang, ulama,
ataupun golongan lain dengan anak bangsawan, bupati ataupun raja akan lebih
menguntungkan. Status sosial ekonomi ataupun politik para bangsawan, bupati,
atau raja akan mempercepat proses islamisasi. Banyak contoh yang dapat
dikemukakan mengenai proses islamisasi melalui perkawinan, antara lain sebagai
berikut.
1) Perkawinan Putri Campa dengan Raja Brawijaya yang melahirkan Raden Patah.
2)
Perkawinan Rara Santang (putri Prabu Siliwangi) dengan Syarif Abdullah
melahirkan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
3)
Perkawinan Putri Blambangan dengan Maulana Ishak mempunyai seorang putra
bernama Raden Paku (Sunan Giri).
4)
Perkawinan Raden Rahmat (Sunan Ampel) dengan Nyai Gede Manila melahirkan Sunan
Bonang (Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajat (Syarifudin).
c.
Melalui Tasawuf
Ajaran
tasawuf adalah ajaran ketuhanan yang telah bercampur dengan mistis atau
unsur-unsur magis. Ajaran tasawuf masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Di Aceh
muncul ahli tasawuf yang terkenal, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as
Samatrani, dan Nuruddin ar Raniri. Di Jawa di antara Wali Sanga juga ada yang
mengajarkan tasawuf ialah Sunan Bonang dan Sunan Kudus.
d. Melalui Pendidikan
Lewat
pendidikan terutama dalam pesantre yang diselenggarakan oleh guru-guru agama,
kiai-kiai, dan ulama-ulama. Pesantren merupakan lembaga yang penting dalam
penyebaran agama Islam karena merupakan tempat pembinaan calon guru-guru agama,
kiai-kiai, dan ulama-ulama. Pada masa pertumbuhan Islam di Jawa, kita mengenal
beberapa pesantren, di antaranya Pesantren Ampel Denta di Surabaya dan
Pesantren Giri di Gresik.
e. Melalui Dakwah
Proses
islamisasi di Jawa melalui dakwah dilakukan oleh kelompok para wali yang
dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Wali artinya wakil atau utusan. Mereka di
samping memiliki pengetahuan agama Islam juga memiliki kelebihan yang disebut
karomah. Oleh karena itu, mereka diberi gelar sunan artinya yang dihormati.
Kesembilan wali tersebut adalah sebagai berikut:
1) Sunan Ampel (Raden Rahmat) di Surabaya (Jawa Timur).
2) Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim) di Tuban (Jawa Timur).
3) Sunan Drajat ( Raden Syarifuddin) atau raden Qosim di Lawongan, Jawa Timur.
4) Sunan Giri (Raden Paku) di Gresik, Jawa Timur.
5) Syeh Maulana Malik Ibrahim, di Gresik, Jawa Timur.
6) Sunan Kalijaga (Raden Said) di Kadilangu, Semarang, Jawa Tengah.
7) Sunan Kudus (Raden Jafar Shodiq) di
Kudus, Jawa Tengah.
8) Sunan Muria (Raden Umar Said) di Muria, Jawa Tengah.
8) Sunan Muria (Raden Umar Said) di Muria, Jawa Tengah.
9) Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) di Cirebon, Jawa Barat.
Penyebaran
agama Islam di Jawa Tengah bagian selatan dilakukan Sunan Tembayat (Bayat) yang
berkedudukan di Klaten. Penyebaran agama Islam di luar Jawa, khususnya di
Sulawesi Selatan dilakukan oleh Datuk ri Bandang dan Datuk ri Sulaiman. Di
Kalimantan Timur dilakukan oleh Datuk ri Bandang dan Tuan Tunggang ri Parangan.
Golongan lain yang mempercepat proses islamisasi ialah mereka yang telah
menunaikan ibadah haji.
Agama Islam mudah diterima dan dapat
berkembang pesat di Indonesia karena faktor sebagai berikut.
1. Syarat masuk Islam sangat mudah, yakni cukup mengucapkan kalimat syahadat.
2. Agama Islam bersifat demokratis, tidak mengenal perbedaan sosial, tidak
membedakan si kaya dan si miskin, tidak membedakan warna kulit, dan sebagainya.
3. Agama Islam tidak mengenal kasta.
4. Agama Islam yang masuk ke Indonesia disesusikan dengan adat dan tradisi bangsa Indonesia, serta bertoleransi tinggi terhadap agama yang ada waktu itu, yakni
Hindu dan Buddha.
5. Penyebaran agama Islam dilakukan dengan jalan damai, tanpa paksaan, dan
kekerasan.
6. Faktor politik yang turut memperlancar penyebaran agama Islam di Indonesia
ialah runtuhnya Kerajaan Majapahit (1478) atau (1526) dan jatuhnya Malaka ke
tangan Portugis 1511.
Berkembangnya agama Islam secara cepat dan meluas di Indonesia terutama di daerah pesisir karena adanya kontak dagang antara pedagang Islam dengan pedagang Indonesia. Para pedagang Islam dari Gujarat dalam menyiarkan agama Islam dengan cara bijaksana dan tanpa paksaan atau kekerasan. Sehingga banyak pedagang maupun penduduk Indonesia pada masal lampau yang tertarik kepada Islam. Selain itu ajaran Islam tidak mengenal kasta.
Makin kuatnya pengaruh Islam di kalangan penduduk mendorong tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di kepulauan Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam terkenal di Indonesia pada masa lampau dapat dijelaskan di bawah ini.
a. Kerajaan Islam Samudra Pasai
Pada abad ke-13 berdirilah kerajaan Islam pertama di Indonesia yaitu Samudra Pasai. Pendiri kerajaan ini sekaligus menjadi raja pertama bernama Sultan Malik al Saleh. Letak kerajaan berada di daerah Aceh Utara di Kabupaten Lokseumawe.
Kemudian pada tahun 1297 Sultan Malik al Saleh wafat untuk melanjutkan pemerintahan ia digantikan oleh putranya bernama Sultan Mahmud. Pada tahun 1326 Sultan Mahmud juga wafat. Selanjutnya pemerintahan kerajaan Islam Samudra pasai dipimpin oleh Sultan Ahmad yang bergelar Sultan Malik Al Tahir. Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad, kerajaan Samudra Pasai mendapat kunjungan Ibnu Batuta, utusan Sultan Delhi. Ibnu Batuta menceritakan bahwa Samudra Pasai merupakan bandar utama pelabuhan yang sangat penting. Karena di pelabuhan ini menjadi tempat bongkar muat barang-barang dagangan yang dibawa oleh para pedagang dari dalam dan luar negeri (India dan Cina).
b. Kerajaan Islam Demak
Pada Abad ke-15 di Pulau Jawa berdiri kerajaan Islam Demak. Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Pendiri kerajaan ini bernama Raden Patah. Ia sebenarnya adalah salah seorang bupati di kerajaan Majapahit yang berkedudukan di Demak dan telah menganut Islam. Kekuasaan Majapahit ketika itu sudah lemah. Keadaan ini mendorong Raden Patah untuk mendirikan kerajaan Islam Demak. Dengan berdirinya kerajaan Islam Demak berarti Raden Patah telah melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Majapahit. Berdirinya kesultanan Demak mendapat dukungan pula dari daerah-daerah lain di Jawa Timur yang sudah Islam seperti Jepara. Tuban dan Gresik.
![]() |
| Masjid Demak |
Dalam waktu singkat Demak telah berkembang menjadi sebuah kerajaan besar. Di samping itu Demak menjadi pusat penyiaran agama Islam. Apalagi setelah malaka Jatuh (dikuasai) oleh Portugis (1511), maka kedudukan dan peranan Demak semakin penting.
Kedatangan penjajah Portugis di Malaka mengundang ketidaksenangan Sultan Demak. Karena hal itu merupakan ancaman pula terhadap kerajaan Demak. Pada tahun 1513 kerajaan Demak mengirim armada tentaranya dipimpin oleh Pati Unus untuk mengusir Portugis di Malaka mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan Potugis memiliki armada lebih kuta dan lengkap.
Meskipun usaha untuk merebut Malaka dari Potugis yang dilakukan Pati Unus mengalami kegagalan, namun peristiwa ini patut dibanggakan karena mereka gagah berani menghadapi bangsa penjajah.
Karena keberaniannya sebagai panglima yang memimpin penyerangan ke Malaka Maka Pati Unus diberi gelar Pangeran Sabrang Lor artinya Pengeran yang menyeberangi laut ke Utara.
Kemudian pada tahun 1518 Raden Patah Wafat. Ia digantikan oleh putranya yaitu Pati Unus. Pemerintahannya hanya berlangsug selama 3 tahun karena setelah itu ia wafat. Selanjutnya kerajaan Islam Demak dipimpin oleh Sultan Renggono, Adim Pati Unus.
Sultan Trenggono dikenal sebagai raja yang tegas dan arif bijaksana. Karena itu pada masa pemerintahannya Demak mencapai puncak kejayaan. Daerah kekuasaannya meliputi Jawa Barat dan Jawa Timur.
Di bawah pemerintahan Sultan Trenggono, Demak tetap antipati terhadap penjajah Potugis. Apalagi Portugis terus meluaskan jajahannya hingga ke Jawa Barat. Pada tahun 1522 Portugis datang ke Sunda Kelapa, pelabuhan utama kerajaan Pajajaran. Portugis menjalin kerjasama dengan raja Pajajaran dengan membuat kesepakatan untuk menghadapi pasukan Islam Demak. Portugis merencanakan mendirikan benteng di Sunda Kelapa.
Pada tahun 1527 kerajaan Islam Demak mengirimkan tentaranya dipimpin oleh Fatahilah untuk mengusir dan menghancurkan Potugis yang menduduki Sunda kelapa. Fatahillah beserta tentaranya berhasil mengusir orang-orang Portugis dan menguasai Sunda Kelapa. Kemudian oleh Fatahillah nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta artinya kemenangan. Sekarang Jayakarta menjadi Jakarta.
Sementara itu Demak berhasil menguasai Jawa Timur. Ekspedisi ke Jawa Timur ini dipimpin langsung oleh Sultan Trenggono. Tetapi dalam serangannya ke Pasuruan Tahun 1546, Sultan Trenggono gugur.
Setelah wafatnya Sultan Trenggono Timbullah pertentangan di kalangan keluarga sendiri. Petentangan bersumber pada siapa yang berhak mewarisi kerajaan. Berakhirnya kerajaan Islam Demak setelah Pangeran Adiwijoyo atau Joko Tingkir berhasil mengalahkan Arya Penangsang suka bertindak sewenang-wenang, sehingga banyak adipati yang menentang tindakannya tersebut. Joko Tingkir kemudian memindahkan keraton Demak ke Pajang (tahun 1568. Dengan demikian tamatlah riwayat Kerajaan Demak.
c. Kerajaan Islam Pajang
Pada tahun 1568 berdiri kerajaan Islam Pajang. Pendiri kerajaan ini adalah Sultan Adiwijoyo atau Joko Tingkir. Ia berhasil mengalahkan Arya penangsang raja Demak. Ia kemudian menindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa berdirinya kerajaan Islam Pajang erat kaitannya dengan kerajaan Demak.
Sultan Adiwijoyo atau Joko Tingkir adalah seorang yang suka menghargai pendukung atau pengikut yang turut bertempur bersamanya sewaktu menghadapi Arya Penangsang. Mereka yang telah berjasa oleh Sultan Adiwijoyo diberi hadiah penghargaan. Kedua orang yang dinilai sangat berjasa yaitu Kiai Ageng Pemanahan dihadiahi tanah di Mataram (sekitar Kotagede, dekat Yogyakarta). Sedangkan Kiai Panjawi dihadiahi tanah di Daerah Pati. Mereka sekaligus diangkat menjadi bupati di daerahnya masing-masing.
Bupati Surabaya diangkat sebagai wakil raja yang memiliki daerah kekuasaan meliputi Sedayu, Gresik, Surabaya dan Panarukan.
Kiai Ageng Pemanahan yang menjadi Bupati Mataram mempunyai seorang putra bernama Sutowijoyo. Ia memiliki bakat di bidang kemiliteran. Sutowijoyo lebih dikenal sebagai Senapti Ing Alaga (Panglima Perang). Karena itu setelah Kiai Ageng Pemanahan wafat pada tahun 1575, pemerintahan dilanjutkan oleh Sutowijoyo, putranya.
Dalam perkembangnya di Pajang terjadi pergolakan hebat. Setelah Sultan Adiwijoyo wafat pada tahun 1582, maka Arya Pangiri putra Sunan Prawoto (dari Demak) mencoba merebut kekuasaan dari Pangeran Benowo yang ketika itu menjadi penguasa Pajang menggantikan ayahnya, Sultan Adiwijoyo. pangeran Benowo meminta bantuan Sutowijoyo dalam menghadapi Arya Pangiri. Perebutan kekuasaan yang dilakukan Arya Pangiri tidak berhasil. Kemudian Pangeran Benowo menyerahkan kekuasaan Pajang kepada saudara angkatnya yang bernama Sutowojoyo karena tidak mampu lagi melanjutkan pemerintahan. Kemudian oleh Sutowijoyo pusat pemerintahan dipindahkan ke Mataram. Dengan demikian tamatlah kerajaan Pajang.
d. Kerajaan Islam Mataram
Pada tahun 1586 berdiri kerajaan Islam Mataram. Pendiri kerajaan ini bernama Sutowijoyo yang bergelar Panembahan Senopalti Ing Alaga Sayidin Pantagama. Letak kerajaan ini berada di Kotagede, Sebelah tenggara kota Yogyakarta. Ketika memerintah dikerajaan Mataram, banyak bupati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaannya. Diantara para bupati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaannya adalah bupati Ponogorogo, Madiun, Kediri, Pasuruan, Surabaya, Cirebon dan Galuh. Namun upaya mereka untuk melepaskan diri tidak behasil karena Sutowijoyo dikenal memiliki keahlian di bidang kemiliteran berhasil mengatasi semua pemberontakan tersebut.
Kemudian pada tahun 1601 Sutowijoyo wafat. Ia dimakamkan di kOtagede. Meskipun demikian ia dinilai telah berhasil meletakan dasar-dasar yang kokoh bagi kerajaan Mataram. Selanjutnya setelah Sutowijoyo wafat, kerajaan Mataram diperintah oleh Mas Jolang atau Penembahan Seda ing Krapyak.
Pada awal pemerintahan terjadi lagi pemberontakan-pemberontakan yang masing-masing dilakukan oleh Demak dan Ponorogo. Tetapi Mas Jolang berhasil memadamkan pemberontakan tersebut. Pemberontakan terhadapnya tampaknya belum berakhir. Pda tahun 1612 Surabaya melakukan perlawanan. Mas Jolang kemudian mengirimkan tentaranya berusaha menumpas pemberontakan. Sementara upaya memadamkan pemberontakan terus berlangsung dan belum berhasil dipadamkan, Mas Jolang wafat. Ia dimakamkan di Kotagede.
Pengganti Mas Jolang bernama Adipati Martapura. Tetapi penggantinya ini tidak mampu menjalankan tugas pemerintahan karena keadaan fisik yang lemah serta sakit-sakitan. Selanjutnya untuk meneruskan pemerintahan Adipati Martapura diganti oleh Mas Rangsang. Ia ternyata orang kuat yang mampu memimpin pemerintahan. Pada masa pemerintahannya kerajaan Islam Mataram mencapai kemajuan yang pesat di bidang petanian, agama dan kebudayaan, Mataram ketika itu merupakan kerajaan terhormat dan disegani tidak hanya di pulau Jawa, tetapi juga di pulau-pulau lainnya.
Karya sastra berupa buku berjudul Sastra Gending merupakan hasil karya yang ditulis oleh Mas Rangsang sendiri. Wayang sebagai kesenian yang digemari rakyat berkembang pesat pula.Pada masa pemerintahan Mas Rangsang (tahun 1633) ditetapkan perhitungan tahun Islam didasarkan bulan. Oleh sebab itu Mas Rangsang sebagai raja yang lebih terkenal dengan sebutan Sultan Agung.
e. Kerajaan Islam Cirebon
Pada tahun 1522 berdiri kerajaan Islam Cirebon. Pendiri kerajaan yang sekaligus menjadi rajanya bernama Fatahillah. Ia sangat berjasa dalam mengislamkan Jawa Barat. Di bawah pemerintahannya kerajaan Islam Cirebon mencapai kejayaan. Daerah kekuasaanya bertambah luas. Kerajaan Islam Cirebon menjalin hubungan yang baik dengan kerajaan Islam Mataram. Pada thaun 1570 Fatahillah wafat. Selanjutnya ia digantikan oleh putranya bernama pangeran Pasarean. Dalam perkembangannya kemudian pada tahun 1679 kerajaan Islam Cirebon dibagi menjadi dua kerajaan yaitu Kasepuhan dan Kanoman.
Pada masa tersebut kedudukan VOC di Batavia semakin kuat. Mereka bermaksud meluaskan kekuasaannya ke Cirebon. Maka Belanda dan VOC-nya mengatur siasat dengan menerapkan politik adu domba atau Devide et Impera. Hal ini bertujuan untuk memperlemah kerajaan Islam Cirebon. Kerajaan Islam Cirebon yang sudah dipecah menjadi dua, oleh Belanda VOC dipecah lagi menjadi tiga masing-masing Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan.
Dengan terpecahnya kerajaan Islam Cirebon menjadi tiga menyebabkan kerajaan Islam Cirebon semakin lemah kedudukannya. Keadaan ini terus dimanfaatkan oleh Belanda dan VOC untuk mengadu domba. Akhirnya padda abad ke-17 Cirebon berhasil dikuasai VOC.
f. Kerajaan Islam Banten
Pada tahun 1552 berdiri kerajaan Islam Banten. Pendiri kerajaan ini bernama Hasanuddin. Ia naik tahta menjadi raja di Banten setelah memperoleh mandat dari ayahnya Fatahillah. Seperti telah kita ketahui bahwa Fatahillah pada mulanya menguasai daerah Sunda Kelapa, Cirebon dan Banten.
Hasanuddin seperti juga ayahnya, giat menyiarkan agama Islam. Pada waktu itu kerajaan Pakuan Pajajran masih menganut agama Hindu. Kerajaan Islam Banten di bawah pemerintahan Hasanuddin makin hari makin kuat kedudukannya. Sementara itu kerajaan Pakuan makin terjepit dan lemah. Meskipun demikian ia tidak memanfaatkan untuk menyerang kerajaan Pakuan Pajajaran. Tetapi Hasanuddin meluaskan pengaruhnya ke Lampung. Bahkan kemudian ia menikah dengan putri Sultan Indrapura. Oleh mertuanya Hasanuddin dihadiahi tanah di daerah Selebar.
Setelah Hasanuddin wafat digantikan oleh putranya bernama Pangeran Yusuf. Ia meluaskan daerah kekuasaannya dan menaklukan Pakuan Pajaran (tahun 1579). Kemudian pada thaun 1580 Pangeran Yusuf wafat.
Setelah wafatnya Pangeran Yusuf, Kerajaan Islam Banten dipimpin oleh Maulana Muhammad. Pada tahun 1596 Maulana Muhammad berusaha meluaskan daerah kekuasaannya dengan mencoba menaklukan Palembang yang ketika itu menjadi saingan Banten di bidang perdagangan. Pada waktu itu Palembang diperintah oleh Ki Gede Ing Suro yang berasal dari Surabaya. Palembang nyaris jatuh ketangan Maulana MUahammad dan pasukannya. Tetapi karena Maulana Muhammad gugur di tengah pertempuran, maka serangan dihentikan dan tetara Banten ditarik mundur kembali ke Banten.
Setelah Maulan Muhammad wafat timbul persoalan di kalangan kerajaan karena yang seharusnya menggantikannya adalah putranya, Abdul Mufakkir. Tetapi pada waktu itu Abdul Mufakkir baru berumur 5 bulan. Maka pemerintahan sementara dipegang oleh seorang mangkubumi. DAlam perkembangannya kemudian muncul orang kuat bernama Pangeran Ranamenggala yang mengendalikan Banten mendampingi Abdul Mufakkir yang belum dewasa. Renamenggala wafat tahun 1624.
Kejayaan kerajaan Banten berlangsung sekitar tahun 1600. Pada waktu itu banten merupakan bandar pelabuhan terbesar. Banyak pedagang dari dalam dan luar pulau Jawa singgah untuk membeli maupun menjual lada, cengkeh, dan pala.
Kemunduran kerajaan Islam Banten terjadi sejak masa pemerintahan Sultan Abdul Mufakkir di mana Belanda terus melakukan blokade-blokade yang mengakibatkan sempitnya ruang gerak kerajaan Islam Banten. Walaupun demikian semangar rakyat Banten yang anti penjajah Belanda tetap menyala.
g. Kerajaan Islam Ternate dan Tidore
Pada abad ke-13 di Maluku telah berdiri beberapa kerajaan seperti ternate, Tidore, Bacan, dan Obi. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut, ternyata kerajaan ternate dan Tidore yang berkembang lebih maju. Hal ini disebabkan hasil buminya yang berupa rempah-rempah terutama cengkeh. Banyak pedagang dari kepulauan Nusantara dan Timur tengah yang pergi berlayar ke Ternate. Para saudagar membawa barang-barang dagangan berupa pakaian, beras dan sebagainya untuk dipertukarkan dengan rampah-rempah.
Pada abad ke-14 agama Islam berkembang pesat di Ternate. Dalam perkembangannya kemudian Ternate berubah menjadi kerajaan Islam. Kerajaan ini dipimpin oleh Sultan Harun. Pada masa pemerintahannya orang-orang Portugis banyak yang datang berdagang di Maluku. Tetapi mereka sering berbuat onar seperti melakukan monopoli dagang secara paksa, bertindak sewenang-wenang, mencampuri urusan pemerintahan dalam negeri. Akibatnya sering terjadi pertempuran antara penduduk Maluku dengan orang-orang Portugis. Akhornya pada tahun 1570 Portugis dengan Sultan Ternate sepakat untuk melakukan perjanjian damai melalui perundingan. Tetapi Portugis menipu Sultan Harun sewaktu berada dalam perundingan, ia pun dibunuh oleh orang Portugis atas suruhan gubernur mereka.
Setelah Sultan Harun wafat, ia digantikan oleh putranya bernama Sultan Baabullah. Peristiwa pengkhiantan keji Portugis terhadap Sultan Harun menimbulkan kemarahan rakyat Maluku. Terlebih lagi Sultan Baabullah sebagai putranya. Ia bersumpah akan membalas dendam kematian ayahnya dengan mengenyahkan orang-orang Portugis dari bumi Maluku. Denan semangat yang membara Baabullah memimpin pasukannya bertempur melawan terntara Portugis. Perang berkobar selama 4 tahun lamanya (1570-1574. Akhirnya benteng Portugis di Ternate berhasil dikuasai Baabullah dan pasukannya. Orang-orang Portugis yang masih hidup menyerah. Kemudian mereka diperintahkan dengan segera angkat kaki dari Maluku khususnya Ternate. Sehak itu daerah Maluku Utara bersih, tidak diganggu lagi oleh orang-orang Portugis. Pada masa pemerintahannya kerajaan Islam Ternate mencapai zaman kejayaannya.
Sementara itu di kerajaan Tidore agama Islam pun bekembang pesat. Seperti halnya Ternate, kerajaan Tidore berubah menjadi kerajaan Islam Tidore yang dipimpin oleh sultan Tidore. Kedua kerajaan ini pada mulanya hidup berdampingan secara damai, saling menghormati kedaulatan masing-masing. Tetapi oleh bangsa Portugis dan Spanyol kedua kerajaan ini diadu domba. Sehingga nyaris terjadi petentangan yang menjurus perang. Untung saja kedua pimpinan kerajaan menyadari hal ini. Mereka tidak mau diadu domba dengan bangsa sendiri. Kemudian kerajaan ini bersatu, bahu-membahu dalam menghadapi Portugis.
h. Kerajaan Islam Makassar
Pada abad ke-16 di Sulawesi Selatan telah berdiri beberapa kerajaan seperti Gowa, Bone, Wajo, Luwu, dan Soppeng. Dalam perkembangannya kerajaan Gowa dan Tallo mengalami kemajuan yang lebih pesat dibandingkan yang lainnya. Hal ini disebabkan letak kerajaan ini sangat strategis dan menguntungkan yakni terletak di tengah-tengah lalu-lintas pelayaran antara Malaka dan Maluku. Kedua kerajaan yaitu Gowa dan Tallo, yang rajanya telah menganut agama Islam bersepakat menyatukan kerajaan mereka menjadi kerajaan Islam Makassar. Rajanya bernama Sultan Alauddin. Ia semua bernama Daeng Manrabia, raja Gowa. Sedangkan Mangkubumi bernama Sultan Abdullah. Ia semua bernama karaeng Matoaya, raja Tallo.
Disamping memimpin pemerintahan, raja dan mangkubumi kerajaan Islam Makassar tersebut sangat giat pula dalam menyiarkan agama Islam. Oleh karena usahanya itu, Maka Makassar menjadi sebuah kerajaan Islam yang sangat kuat. Daerah kekuasaanya tidak hanya meliputi sebagian besar Sulawesi dan Pulau-pulau sekitarnya, melainkan juga sampai di bagian timur Nusa Tenggara.
Kerajaan Islam Makassar mencapai puncak kejayaannya ketika diperintah Sultan hasanuddin berkuasa (tahun 1654-1669). Ia adalah salah seorang cucu Sultan Alauddin, pendiri kerajaan Islam Makassar. Sultan Hasanuddin terkenal sangat gigih dalam menentang penjajah Belanda. Ketika Belanda dengan VOC-nya meminta kepada Sultan Hasanuddin agar melarang rakyatnya berdagang di Maluku, karena hal itu dianggap pelanggaran monopoli. maka Sultan hasanuddin dengan tagas menjawab: "Tuhan menciptakan dunia ini untuk kebahagiaan sekalian umat manusia. Ataukah tuan menyangka bahwa Allah mengecualikan pulau-pulau Maluku yang jauh dari tempat bangsa tuan ini semata-mata untuk perdagangan tuan".
Penjajahan belanda terus berupaya untuk menaklukan Sultan Hasanuddin. Pada waktu itu sedang terjadi perselsihan antara Sultan Hasanuddin dengan Aru Palaka, raja Bone dan Soppeng. Keadaan ini dimanfaatkan Belanda dengna menerapkan politik adu domba. Belanda dalam hal ini memihak Aru Palaka dan secara bersama memerangi Sultan Hasanuddin. Kemudian berkobar pertempuran hebat (tahun 1666-1669) antar Belanda (VOC) beserta Aru Palaka di satu pihak dengan Sultan Hasanuddin, dan Malaka Sultan Hasanuddin terdesak dan Makasar hampir jatuh ke tangan Belanda. Akhirnya Sultan Hasanuddin bersedia membuat perjanjian damai yang dikenal dengna perjanjian Bongaya (1667).
Walaupun perjanjian telah disepakati, namun Belanda yang licik selalu melanggar perjanjian dengan bertindak sewenang-wenang. Hal ini membangkitkan kembali kemarahan Sultan Hasanuddin. Kemudian ia mengangkat senjata kembali memerangi Belanda.
Dalam peperangan ini Sultan Hasanuddin mendapat tekanan hebat dari pasukan Belanda, maka akhirnya pada tahun 1669 Sultan Hasanuddin terpaksa menyerah dan Makassar pun dikuasai penjajah Belanda. Meskipun demikian dalam diri orang-orang Makassar tetap tumbuh semangat anti penjajahan. karena itu banyak diantara merek yang pergi merantau ke Madura, Banten dan sebagainya membantu daerah-daerah yang masih berperang melawan Belanda.
Kata-kata Penting :
Musafir:
Orang-orang yang sedang berpergian karena suatu tugas, berdagang, menyiarkan agama Islam dan lain-lain.
Keraton:
Tempat tinggal raja/ keluarga raja.
